Artinya, "Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya diantara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar." (QS. an-Nisa', 4 : 162)
Untuk menjaga kesucian dien ini, Allah Ta'ala telah menetapkan para
utusan-Nya bagi setiap umat dengan mengirimkan orang-orang yang mujaddid
atau orang-orang yang berupaya mengembalikan syaria't sesuai dengan
yang diturunkan oleh Allah Ta'ala dan membumikan sunnah-sunnah yang
diwariskan oleh Rasulullah saw kepada umat saat ini. Mereka dijadikan
oleh Allah Ta'ala sebagai wali di muka bumi untuk tetap mengawal umat
sehingga tidak berbelok ke arah yang berseberangan dengan jalan-Nya.
Sementara dunia saat ini (baca: orang-orang kafir) sudah bergelora
menancapkan syari'at sesatnya guna memalingkan manusia sejauh-jauhnya
dari dien yang hak.
Kedudukan ilmu
Sesungguhnya para ulama mujaddid dihadirkan untuk umat karena ia
memiliki kecukupan dan kecakapan dalam ilmu, terutama ilmu dien. Hal itu
menandakan pentingnya kepemilikan ilmu. Sementara posisi ilmu dalam
islam adalah hal yang paling utama sebelum beramal dan yang juga paling
utama setelah beriman, sebab fungsi ilmu menyuburkan iman dan
menunjukkan jalan kebenaran iman. Al-Qur'an banyak menyebutkan
keterkaitan antara ilmu dan iman karena keduanya merupakan sarana yang
dapat beroleh kemuliaan dan ketinggian derajat manusia di mata Allah
Ta'ala. Seperti firman-Nya,
Artinya, "…niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Mujadilah, 58:11)
Ibnu Mas'ud dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa kedudukan
orang-orang beriman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang
kafir meski mereka memiliki kelebihan yang bersifat keduniaan dari
orang-orang beriman. Namun derajat orang-orang beriman yang berilmu akan
menempati posisi yang lebih baik lagi ketimbang orang yang hanya
beriman saja. Hal tersebut dikarenakan hanya dengan sarana ilmu lah,
seseorang dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, yang mana
yang sesuai dengan standar kebenaran yang telah disyari'atkan Allah
Ta'ala kepada manusia dan yang mana yang hanya mengekor kepada thoghut.
Para ulama menetapkan bahwa syarat syahnya suatu amalan adalah ikhlas
dan ittiba' (mengikuti). Bagaimana ittiba' bisa berlangsung—disinilah
pentingnya peran ilmu. Mana mungkin seseorang bisa mengikuti, sementara
ia tidak tahu siapa dan apa yang harus diikutinya… Sementara Rasulullah
saw bersabda,
Artinya, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintahku, maka amalan itu tertolak."(HR. Muslim)
Dengan ilmu, manusia bisa memperoleh pengetahuan akan cara hidup yang
harus dijalaninya, memperoleh pengetahuan tentang apa-apa yang baik dan
apa-apa yang buruk bagi dirinya, mengetahui kesempatannya untuk bisa
memperoleh derajat kemuliaan di sisi sang Kholik, bahkan dengan ilmu ia
bisa merasakan kehadiran Allah Ta'ala mengawasi dirinya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
Artinya, "Manusia itu lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum,
karena seseorang itu butuh makan dan minum sekali atau dua kali sehari,
sedangkan ilmu itu dibutuhkan setiap kali hembusan nafasnya." (kitab
Madarijus Salikin)
Rasulullah saw juga pernah menegaskan tentang keutamaan ilmu bagi seseorang,
Artinya, "Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya ia menjadi baik,
maka Dia memberinya pemahaman terhadap agama (al-Qur'an dan as-Sunnah)."
(HR. Bukhari)
Banyaknya pernyataan dari Allah Ta'ala yang menunjukkan tingginya
derajat ilmu diantaranya yaitu bahwa posisi orang yang berilmu dibanding
semua manusia adalah bak bulan purnama diantara bintang-gemintang, ia
mendapatkan penghormatan dari para malaikat yang menundukkan sayapnya,
serta beroleh pertolongan untuk dimintakan-ampunan dari binatang,
tetumbuhan, bahkan benda-benda mati disekitarnya.
Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Allah
menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan
as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang
banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran (dari firman Allah)." (QS. al-Baqarah, 2 : 269)
Oleh karena itulah, hanya dengan ilmu—kemuliaan dapat diperoleh. Tentu
saja ilmu yang mendapat jaminan kemuliaan bagi pemiliknya adalah ilmu
dien atau ilmu syari'at, yang berguna untuk mengetahui segala yang
diwajibkan dan segala yang diharamkan kepada muslim yang mukallaf. Ilmu
juga merupakan warisan yang paling berharga yang ditinggalkan oleh para
nabi dan rasul bagi umatnya sehingga para ulama dan orang-orang berilmu
adalah orang-orang yang paling beruntung karenanya. Maka sudah
seyogyanya kita selalu memohon kepada Allah Ta'ala agar diberikan
kemudahan dalam memperoleh ilmu serta memahamkannya. Allah Ta'ala telah
mengajarkan dalam firman-Nya,
Artinya, "…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha, 20 : 114)
Hal penting kemudian adalah mencari wasilah untuk diperolehnya ilmu yang
telah dimohonkan tersebut. Begitu banyak kisah yang bisa kita ketahui
bahwa para nabi dan rasul memiliki perjalanan yang panjang dalam
usahanya memperoleh ilmu, demikian pula para sahabat, para tabi'in, para
tabi'ut-tabi'in, hingga para ulama saat ini. Semuanya berikhtiar dengan
segenap kemampuan yang ada.
Lalu bagaimanakah dengan kita sendiri? Apakah yang sudah kita peroleh selama ini?
Sebagian besar mungkin sudah merasa cukup dengan perolehan yang ada,
bahkan tak sedikit yang merasa puas karena sudah dilahirkan oleh
orang-tua yang muslim. Memang benar, islamnya kita karena keturunan
merupakan anugrah yang patut disyukuri—namun modal dasar yang kita sudah
miliki tersebut tetap harus ditingkatkan karena ia perlahan bisa
memudar bahkan lenyap karena tak pernah disuburkan dengan ilmu.
Para ulama terdahulu memiliki ghiroh luar-biasa terhadap ilmu. Mereka
berkemauan keras demi tercapainya ilmu. Melalui perjalanan yang tak
sebentar, dengan harta yang mereka habiskan hingga menjadi miskin
karenanya, dan dengan menemui begitu banyak orang shalih yang mempunyai
kecakapan ilmu yang hidup di zaman mereka.
Rasulullah saw bersabda,
Artinya, "Bahwasanya siapa yang melalui suatu jalan dalam menuntut ilmu,
maka akan dimudahkan baginya jalan ke surga…" (Shahih al-Jami' no.
1727)
Manshur bin Ammar al-Khurasani, dalam kitab Al-Muhadditsul Fasil Baina
Arraawi wal Waa'i (hal. 220-221), mengatakan tentang orang-orang yang
mencari ilmu bahwa mereka keluar dari satu negeri ke negeri yang lain,
menelusuri setiap lembah, kusut rambutnya, lusuh bajunya, kempis
perutnya, kering bibirnya, dan kurus badannya untuk mencari ilmu. Mereka
hanya punya satu impian, yaitu keridhaan pada ilmu. Tidak menghalangi
mereka rasa lapar dan dahaga, serta semangat mereka tidak pernah lekang
oleh cuaca panas ataupun dingin. Mereka membedakan hadits yang shahih
dengan yang dha'if dengan pengetahuan yang kuat, pemikiran yang
cemerlang, serta hati yang siap untuk menerima kebenaran. Maka amanlah
mereka dari kerancuan dan hal-hal yang dibuat-buat orang dan dari
kebohongan para pendusta.
Mereka mengembara mencari ilmu di siang-siang yang panas dan
menghidupkan malam dengan menuliskan ilmu yang telah mereka dapatkan.
Umur mereka pun habis dalam menekuni ilmu, terlebih kesenangan mereka
terhadap dunia yang semakin tak menjadi prioritas. Dunia bagi mereka
adalah hari-hari yang berlalu, yang apabila tanpa dihiasi dengan ilmu
hanya merupakan kesia-siaan yang bisa mendatangkan kebinasaan bagi
manusia.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata dalam kitab Syafahat min Shabril
ulama', "Tidak sesuai orang yang menuntut ilmu, kecuali bagi orang yang
siap miskin." Beliau juga berkata, "Tidak mungkin menuntut ilmu, orang
yang pembosan dan sering berubah pikiran serta merasa puas dengan apa
yang ada pada dirinya. Akan tetapi, menuntut ilmu dengan menahan diri,
dengan kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut, maka dengan
itu ia akan beruntung."
Beberapa kisah perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu
Dalam firman-Nya,
Artinya, "…mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. at-Taubah, 9 : 122)
Imam Syafi'i rahimahullah menegaskan bahwa tidak akan beruntung orang
yang menuntut ilmu kecuali ia berada dalam keadaan serba kekurangan.
"Aku dahulu untuk mencari sehelai kertas pun sangat sulit, sehingga
setiap kali selesai menyimak seorang guru—aku pulang lalu mengambil
tembikar, pelepah kurma, dan tulang unta. Aku menulis hadits yang telah
kuhafalkan disitu dan jika telah tak ada lagi bidang yang tersisa untuk
kutulis—aku menyimpannya dalam gentong milik ibuku hingga penuh
dengannya." (Kitab Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlih)
Abu Darda' mengatakan, "Kalau aku menemukan satu ayat dalam al-Qur'an
dan tidak ada yang bisa menerangkannya kepadaku, kecuali seseorang yang
tinggal sangat jauh sekali, maka aku akan temui ia." (Ar-Rihlah fi
Thalabil Hadits, 1/195)
Sa'id al-Musayyab pernah berkata, "Sesungguhnya aku pernah berjalan
berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits." (HR. Malik)
Imam Malik bin Anas pernah belajar dari 900 guru, sekitar 300 dari
mereka merupakan golongan tabi'in, dan selainnya merupakan
tabi'ut-tabi'in. Ia sangat menaruh perhatian pada keotentikan satu
riwayat dan sangat berhati-hati agar tidak mengambil riwayat dari
orang-orang yang tidak tsiqoh. Dituliskan dalam Tartibul Madarik li
Ma'rifati A'lami Mazhabil Malik bahwa Imam Malik sedemikiannya merasakan
kemiskinan untuk memperoleh ilmu, sampai-sampai ia menjual kayu atap
rumahnya.
Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang disebutkan Ibnu al-Jauzi dalam kitab
Shaidul Khathir, mengatakan bahwa beliau (Imam Ahmad bin Hambal) sampai
dua kali mengelilingi dunia untuk menuntut ilmu hingga beliau dapat
mengumpulkan musnad. Sementara Abdullah bin Muhammad al-Baghawi
mengatakan bahwa Ahmad bin Hambal berkata, "Aku akan menuntut ilmu
hingga aku dimasukkan ke liang kubur."
Dari Ja'far bin Muhammad al-Quthun bahwa Imam Bukhari berkata, "Aku
belajar pada seribu orang ulama, bahkan lebih dan aku tidak menuliskan
satu hadits pun kecuali kusebutkan sanadnya." Beliau rahimahullah juga
berkata, "Aku menulis kitab Ash-Shahih selama sepuluh tahun dan aku
mengeluarkan padanya enamratus ribu hadits, dan aku menjadikannya
sebagai hujjah antara aku dengan Allah Ta'ala."
Begitu juga keseriusan yang dijalani syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
beliau mempelajari al-Qur'an, ilmu hadits, ilmu nahwu, fiqih beserta
hukum-hukum ushulnya, tafsir, dan lainnya dalam usia yang masih belasan
tahun sampai-sampai di tempat tinggalnya di Damaskus ia dikenal sebagai
seorang yang cerdas, memiliki hafalan yang kuat, serta memahami beragam
risalah. Kehidupannya pun juga diwarnai oleh banyak penentangan hingga
sempat memasukkannya ke dalam penjara. Namun itu tidak menyurutkan
semangatnya, seperti yang dikatakan Ibnu Abdil Hadi, "Syaikh Ibnu
Taimiyyah memiliki karangan, fatwa, kaidah, jawaban, dan yang lainnya
hingga tidak terhingga. Aku tidak mengetahui seorang pun yang
mengumpulkan seperti yang beliau kumpulkan atau menulis seperti yang
beliau tulis. Padahal kebanyakan dari tulisannya adalah hasil dari apa
yang didiktekan dari hafalan dan ditulis ketika beliau dalam penjara
yang tentu tidak ada buku rujukan yang bisa beliau gunakan pada saat
seperti itu."
Demikian sekilas perjuangan dan kesungguhan para mujaddid dalam meniti
ilmu. Apa yang mereka tinggalkan merupakan sebuah keberuntungan untuk
hidup kita di masa sekarang. Seperti sabda Rasulullah saw,
Artinya, "Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun
dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang
mengambilnya, ia telah mendapat bagian yang sangat besar." (HR. Abu
Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Karya besar mereka sudah diaplikasikan dalam berbagai media yang pada
era ini amat mudah kita peroleh dimana-mana. Tinggal kita camkan pada
diri kita: kapan akan kita ikuti proyek cara hidup mereka dengan
pemenuhan nilai investasi keseriusan fi sabilillah berjangka-panjang
demi peraihan akhir yang gemilang seperti mereka… Sementara sudah
teramat cukup rasanya kita memenuhi keseharian kita dengan berleha-leha
menghambur-hamburkan umur, menikmati berbagai hiburan yang
menina-bobokan akal dan mengeraskan hati, bahkan adakalanya hanya serius
untuk memenuhi perkara perut semata. Sementara musuh-musuh Islam sudah
ditakdirkan akan selalu berupaya mengganyang iman kaum muslimin.
Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita meningkatkan kualitas diri kita
sebagai seorang muslim melalui keilmuan yang hakiki. Lalu senantiasa
bermunajat agar diberikan kemudahan dalam kefaqihan;
Artinya, "…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha, 20 : 114).
Wallahu'alam bish shawab…
Oleh: Ustadz Abu Jibriel Abdurrahman
Artikel By : http://arrahmah.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar