Allah juga mnerapkan metode
“bertahap” (pada permulaan turunnya wahyu) pada diri umat, seakan-akan mereka
adalah anak yang sedang tumbuh kembang. Setelah umat ini dewasa, diberitakan
bahwa agama umat ini diperuntukkan bagi manusia sampai hari akhir, karena
mereka adalah umat terakhir.
Pendidikan agama Allah
disampaikan secara bertahap kepada umat dan juga kepada setiap individu.
Pendidikan tersebut disampaikan dengan penuh kelembutan dan rasa kasih sayang.
Kemudian, setelah rasa iman tertanam kuat dihati mereka, barulah disampaikan
tentang hukum halal dan haramnya sebagian kebiasaan dan tradisi yang telah
mengakar dalam jiwa mereka. Penyampaian hukum haram ini dilakukan setelah iman
tertanam kuat dengan pertimbangan bahwa memisahkan diri dari tradisi yang telah
mengakar kuat amatlah sulit.
Dari Yusuf bin Mahak berkata :
Sesungguhnya aku berada di samping Aisyah, Ummul Mukminin, tiba-tiba seorang
bangsa Irak datang kepadanya dan berkata, kapan apakah yang terbaik ?” Aisyah
menjawab, “Hei, apakah yang menimpamu ?”orang Irak itu berkata, “Wahai Ummul
mukminin, tunjukkanlah mushafmu kepadaku ! “Aisyah bertanya, “untuk apa ? “orang Irak itu menjawab, “supaya saya
terbiasa dengan al quran karena mushaf itu sesungguhnya dia (Al Quran) selalu
terbaca, tetapi tidak pernah dekat dengan hati. Aisyah berkata, “apa yang kamu
baca telah cukup bagimu. Sesungguhnya surat yang pertama kali diturunkan menyebutkan
tentang surga dan neraka, hingga ketika manusia telah berada dalam Islam, maka
turunlah (ketentuan Allah) tentang haram dan halal. Jika saja sesuatu ayat yang
turun pertama kali berbunyi : “janganlah kalian minum khamar, “niscaya mereka
akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan khamar selamanya”. Jika diturunkan
ayat berbunyi : “Janganlah kamu berzina, “niscaya mereka akan berkata, “Kami
tidak akan meninggalkan zina selamanya. “Ketika aku masih menjadi seorang gadis
yang masih suka bermain, di Mekah diturunkan sebuah ayat kepada Muhammad SAW
yang berbunyi : “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada
mereka dan kiamat itu lebih dashyat dan lebih pahit (Al Qomar :46). “Tidaklah
diturunkan surat Al Baqarah dan An Nisa kecuali aku berada di dekat Rasulullah.
“Yusuf bin Mahak berkata, “Kemudian Aisyah mengeluarkan mushafnya dan
mendiktekan suatu surat (Al Quran) kepada orang Irak tersebut”.
Ucapan Aisyah, “Maka turunkanlah
(ketentaun) halal dan haram (nazalal halal wal haram)” menunjukkan hikmah Allah
dalam menurunkan Al Qur’an secara bertahap. Ayat-ayat pertama yang diturunkan
Allah berisi ajakan kepada tauhid, kabar gembira bagi orang beriman, dan kabar
duka bagi orang kafir dan ahli maksiat dengan ancaman neraka. Tatkala hati dan
jiwa umat ini telah melekat dengan ruh Islam, maka allah Menurunkan ayat-ayat
yang berkaitan dengan hukum. Karena itu, aisyah berkata, “Jika saja sesuatu
(ayat) yang diturunkan pertama kali berbunyi : “Janganlah kalian meminum khamar
selamanya”. Mereka berkata semacam itu karena meninggalkan suatu tradisi yang
telah mengakar kuat dalam jiwa adalah perbuatan berat yang membuat enggan.
Orang-orang kafir mengusulkan
agar Al Qur’an diturunkan Allah SWT sekaligus dalam satu bentuk mushaf. Lantas
Allah SWT menjawab usulan mereka, seraya menjelaskan hikmah dibalik penurunan
Al Qur’an secara bertahap dan terpisah.
Allah berfirman :
“Berkatalah orang-orang kafir : “Mengapa Al Qur’an itu
tidak diturunkan kepadanya sekali tutun saja ?”, demikianlah supaya kami
perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya dengan tartil (teratur dan
benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang
ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik
penjelasannya”. (Al Furqan : 32-33).
“Dan Al
Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacanya
perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian”.
(Al Isra: 106)
Al
Qurtubi berkata, “Firman Allah : Wa nazzalnaahu tanzila (dan kami
menurunkannya (Al Qur’an) bagian demi bagian) mengandung makna “ayat demi ayat”,
“tahap demi tahapan”. Jika saja kaum muslimin dibebani dengan amal-amal fardhu
dalam waktu yang bersamaan, niscaya mereka akan malas dan enggan
melaksanakannya.
_______________________________SEMOGA BERMANFAAT_____________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar