AHLAN WA SAHLAN DI WEB MUJAHID

Senin, 10 Desember 2012

Jenjang-jenjang Mencari Ilmu


Allah menciptakan manusia. Dia mengetahui apa yang baik bagi manusia, yang membimbing dan memberi hidayah kepada manusia. Allah adalah Rabb (Tuhan). Hal ini berarti bahwa Dia-Lah yang menanggung pendidikan (tarbiyah) dan memelihara manusia. Di antara bukti kesempurnaan tarbiyah yang diberikan Allah ialah metode “ berangsur-angsur” (bertahap) dalam mendidik manusia, semenjak kuku-kuku jemari manusia masih lemah sampai ia menemui ajalnya. Seorang ayah diperintahkan untuk mengajari sang anak yang masih belia, tentang shalat misalnya, tanpa paksaan. Karena usia dini seorang anak tidak dibebani kewajiban hingga ia mendapatkan mimipi basah. Jika seorang anak diwajibkan shalat sebelum ia mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk), niscaya ini akan menyebabkan sang anak mengalami kesulitan.
Allah juga mnerapkan metode “bertahap” (pada permulaan turunnya wahyu) pada diri umat, seakan-akan mereka adalah anak yang sedang tumbuh kembang. Setelah umat ini dewasa, diberitakan bahwa agama umat ini diperuntukkan bagi manusia sampai hari akhir, karena mereka adalah umat terakhir.
Pendidikan agama Allah disampaikan secara bertahap kepada umat dan juga kepada setiap individu. Pendidikan tersebut disampaikan dengan penuh kelembutan dan rasa kasih sayang. Kemudian, setelah rasa iman tertanam kuat dihati mereka, barulah disampaikan tentang hukum halal dan haramnya sebagian kebiasaan dan tradisi yang telah mengakar dalam jiwa mereka. Penyampaian hukum haram ini dilakukan setelah iman tertanam kuat dengan pertimbangan bahwa memisahkan diri dari tradisi yang telah mengakar kuat amatlah sulit.
Dari Yusuf bin Mahak berkata : Sesungguhnya aku berada di samping Aisyah, Ummul Mukminin, tiba-tiba seorang bangsa Irak datang kepadanya dan berkata, kapan apakah yang terbaik ?” Aisyah menjawab, “Hei, apakah yang menimpamu ?”orang Irak itu berkata, “Wahai Ummul mukminin, tunjukkanlah mushafmu kepadaku ! “Aisyah bertanya, “untuk apa ?  “orang Irak itu menjawab, “supaya saya terbiasa dengan al quran karena mushaf itu sesungguhnya dia (Al Quran) selalu terbaca, tetapi tidak pernah dekat dengan hati. Aisyah berkata, “apa yang kamu baca telah cukup bagimu. Sesungguhnya surat yang pertama kali diturunkan menyebutkan tentang surga dan neraka, hingga ketika manusia telah berada dalam Islam, maka turunlah (ketentuan Allah) tentang haram dan halal. Jika saja sesuatu ayat yang turun pertama kali berbunyi : “janganlah kalian minum khamar, “niscaya mereka akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan khamar selamanya”. Jika diturunkan ayat berbunyi : “Janganlah kamu berzina, “niscaya mereka akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya. “Ketika aku masih menjadi seorang gadis yang masih suka bermain, di Mekah diturunkan sebuah ayat kepada Muhammad SAW yang berbunyi : “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dashyat dan lebih pahit (Al Qomar :46). “Tidaklah diturunkan surat Al Baqarah dan An Nisa kecuali aku berada di dekat Rasulullah. “Yusuf bin Mahak berkata, “Kemudian Aisyah mengeluarkan mushafnya dan mendiktekan suatu surat (Al Quran) kepada orang Irak tersebut”.
Ucapan Aisyah, “Maka turunkanlah (ketentaun) halal dan haram (nazalal halal wal haram)” menunjukkan hikmah Allah dalam menurunkan Al Qur’an secara bertahap. Ayat-ayat pertama yang diturunkan Allah berisi ajakan kepada tauhid, kabar gembira bagi orang beriman, dan kabar duka bagi orang kafir dan ahli maksiat dengan ancaman neraka. Tatkala hati dan jiwa umat ini telah melekat dengan ruh Islam, maka allah Menurunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Karena itu, aisyah berkata, “Jika saja sesuatu (ayat) yang diturunkan pertama kali berbunyi : “Janganlah kalian meminum khamar selamanya”. Mereka berkata semacam itu karena meninggalkan suatu tradisi yang telah mengakar kuat dalam jiwa adalah perbuatan berat yang membuat enggan.
Orang-orang kafir mengusulkan agar Al Qur’an diturunkan Allah SWT sekaligus dalam satu bentuk mushaf. Lantas Allah SWT menjawab usulan mereka, seraya menjelaskan hikmah dibalik penurunan Al Qur’an secara bertahap dan terpisah.
Allah berfirman :




“Berkatalah orang-orang kafir : “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali tutun saja ?”, demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya dengan tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik penjelasannya”. (Al Furqan : 32-33).
            “Dan Al Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian”.
(Al Isra: 106)  
            Al Qurtubi berkata, “Firman Allah : Wa nazzalnaahu tanzila (dan kami menurunkannya (Al Qur’an) bagian demi bagian) mengandung makna “ayat demi ayat”, “tahap demi tahapan”. Jika saja kaum muslimin dibebani dengan amal-amal fardhu dalam waktu yang bersamaan, niscaya mereka akan malas dan enggan melaksanakannya.

_______________________________SEMOGA BERMANFAAT_____________________________
   
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar