Tidak ada sesuatu yang berubah, yang lebih baik dari pada perubahan dari sifat sabar menjadi ilmu.
Ibrahim
Bin Adham berkata : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan syaitan dari
pada orang alim yang sabar. Jika dia berkata, dia berkata dengan ilmu. Jika dia
diam, dia diam dengan rasa sabar. Syaitan berkata : “Lihatlah padanya.
Ucapannya lebih memberatkan aku dari pada diamnya”.
Abu Umar Bin Abdil Barr meriwayatkan dengan sanadnya dari
Ibnu Abbas RA berkata : “Aku menetap selama satu tahun, sementara aku bimbang
selama dua tahun. Aku ingin bertanya kepada Umar Bin Khattab tentang dua wanita
yang memprotes Rasulullah SAW. Aku tidak mendapati tempat untuk bertanya
tentang hal ini, hingga dia keluar menunaikan ibadah haji dan aku menemaninya,
sampai kami berada di lembah Dahran sembari dia pergi untuk buang hajat. Dia
berkata : “Ambilkan untukku satu wadah air”. Tatkala dia telah menyelesaikan
hajatnya dan kembali, aku datang membawa satu wadah air dan aku tuangkan
untuknya. Lantas aku melihat satu tempat untuk bertanya. Aku berkata : “Wahai
amirul mukminin, siapakah dua orang perempuan yang memprotes Rasulullah SAW ?
Aku tidak menghentikan ucapanku sampai dia berkata : “Asiyah dan Hafshah”.
Abu Umar berkata :”Tidak mencegah Ibnu Abbas r.a untuk bertanya
kepada Umar tentang hal itu kecuali kebesaran Umar. Keterangan ini disebutkan
di dalam hadits Ibnu Syihab, yaitu :
Dari
Ibnu Abbas r.a berkata :” Aku berdiam selama dua tahun di mana aku ingin
bertanya kepada Umar bin Khattab tentang suatu hadits, yang mana tidak ada yang
mencegahku untuk bertanya kecuali kebesaran Umar. Hingga dalam suatu perjalanan
haji atau umrah, dia tertinggal di belakang, pada pohon Arok yang berada di
lembah Dahran untuk buang hajat. Tatkala dia datang, aku bicara berdua dengannya.”
Aku berkata :”Wahai Amirul Mukminin, Aku ingin bertanya tentang suatu hadits
kepadamu, di mana tidak ada yang mencegahku untuk bertanya kecuali
kebesaranmu.” Dia berkata :”Jangan enggan bertanya. Jika kamu ingin bertanya,
bertanyalah. Maka sesungguhnya jika aku mempunyai ilmu, maka aku akan memberi
tahu kamu. Jika tidak, aku akan berkata:”Aku tidak tahu. Maka bertanyalah
kepada orang yang mengerti.”
Aku
berkata :”Siapakah dua perempuan yang disebutkan bahwa mereka berdua memprotes
Rasulullah SAW?”
Umar
bin Khattab r.a menjawab: “Aisyah dan Hafshah.” Kemudian dia berkata : ”Aku
mempunyai saudara dari golongan Anshar. Kami secara bergantian menemui
Rasulullah SAW. Aku menemui beliau sehari, dan dia sehari berikutnya. Setiap
hadits atau khabar yang dia terima selalu disampaikannyapadaku. Demikian pula
halnya denganku. Pada suatu hari dia menemui Rasulullah SAW, sedangkan aku
tidak. Lantas dia datang kepadaku, dan menyebutkan hadist tentang keseluruhan
isinya.”
Abu Umar berkata :”Yang mempersaudarakan Rasulullah SAW
dari golongan Anshar ialah ‘Itban bin Malik.”
Maka
lihatlah Ibnu Abbas ra. Alangkah sabarnya dia. Alangkah beradabnya dia. Alangkah
pandainya dia memanfaatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang suatu masalah.
Suatu
masalah menggelitik jiwanya. Dia tidak ingin bertanya selain kepada Umar, tetapi
kebesaran Umar menghalanginya untuk bertanya. Lantas dia bersabar untuk
menunggu datangnya kesempatan. Dan tatkala kesempatan itu datang, ia bertanya
dan terjawab sudah masalah yang menggelitiknya.
Barangsiapa
bersabar dalam menuntut ilmu, maka benderanya berkibar tinggi. Imam Nawawi
Rahimahumullah berkata : Barangsiapa tidak bersabar dalam mencari ilmu, maka
umurnya akan dihabiskan dalam kebodohan yang buta. Barangsiapa bersabar, maka
urusannya akan menuju keagungan akhirat dan dunia. Ibnu Abbas r.a berkata :
“Aku menjadi hina dalam mencari ilmu, maka aku menjadi mulia tatkala dicari
(orang mencari ilmu dariku).”
Betapa besar kesabaran yang dimiliki Ibnu Abbas r.a
tatkala dia menghadapi para sahabat Nabi SAW, bertanya, dan belajar ilmu dari
mereka. Maka tatkala sebagian besar dari sahabat tersebut pergi menemui Rabb
mereka, masyarakat membutuhkannya. Banyak pencari ilmu yang menghadap padanya.
Semoga Allah meridhoi Ibnu Abbas.
Tinta umat, pemandu Al Qur’an Ibnu Abbas menceritakan
bagaimana dia bisa menggapai ilmu yang tinggi setelah mendapat pertolongan dari
Allah dan barokah doa Rasulullah SAW,
ketika beliau mendoakannya supaya Allah mengajarinya Al Kitab, Imam Bukhari dan
Muslim meriwayatkan :”Rasulullah SAW memelukku dan berkata :”Ya Allah,
ajarkanlah dia Al Kitab.”
Al Hafidz berkata : Sabda Rasulullah “Ajarkan dia Al
Kitab.” Pengarang menjelaskan sebab turunnya doa Rasulullah SAW dalam
pembahasan “thaharah” . dari Ubaidillah
bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas berkata : ”Nabi SAW masuk kedalam kamar mandi,
kemudian aku menyiapkan air wudhu buat beliau.” Muslim menambahkan : “Tatkala
Rasulullah SAW keluar, beliau bertanya, “Siapa yang menyiapkan ini ? ” Kemudian
aku memberi tahu beliau.”
Yang
dimaksud dengan “AL Kitab” pada hadits diatas adalah al Qur’an karena kebiasaan
syara, menunjukkan arti tersebut. Yang dimaksud dengan “ta’lim” (pengajian) di
sini lebih umum sifatnya dari pada “memahami” atau “menghafal” Al Qur’an.
Dalam riwayat Imam Bukhari Rahimahumullah disebutkan :
Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a dalam dada beliau, lalu berkata : “Ya Allah,
ajarkanlah padanya hikmah.” Al Bukhari berkata :”Hikmah adalah kebenaran,
selain kenabian.”
Al
Hafidz rahimahullah berkata : Terdapat perbedaan berkenaan dengan arti hikmah
di sini. Dikatakan bahwa hikmah adalah kebenaran dalam perkataan. Dikatakan
pula sebagai pemahaman yang diberikan Allah. Dikatakan pula sebagai kebenaran
yang biasa diterima oleh akal. Dikatakan pula sebagai cahaya petunjuk yang
dapat membedakan antara ilham dan was-was. Dikatakan sebagai kemampuan untuk
menjawab dengan cepat dan benar, dan lain sebagainya.
Ibnu Abbas r.a adalah sahabat yang paling pandai dalam
menafsirkan al Qur’an. Ibnu Abbas berkata : Tatkala Rasulullah SAW wafat, aku berkata pada salah
seorang lelaki Anshar: “Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah SAW.
Maka sesungguhnya jumlah mereka banyak sekarang ini. “Lelaki itu berkata :
“Aneh sekali engkau ini, wahai Ibnu abbas. Tidaklah engkau melihat masyarakat
membutuhkanmu. Diantara sahabat Rasulullah SAW , siapakah mereka yang bisa
ditanya?”
Ibnu
Abbas r.a berkata : “Aku tinggalkan peristiwa itu seraya menghadap pada para
sahabat Rasulullah SAW, karena sesungguhnya akan sampai padaku sebuah hadits
dari lelaki itu. Aku mendatangi pintunya sementara dia sedang berkata. Kemudian
aku tempelkan selendangku pada pintunya. Angin berdebu menimpaku. Kemudian dia
keluar dan melihat padaku. Lantas dia berkata : “Wahai putra paman Rasulullah
SAW, apa yang terjadi padamu? Tidakkah engkau mengirim pesan agar aku
menemuimu?”
Maka aku berkata : “Tidak aku lebih berhak untuk
menemuimu. “Ibnu Abbas berkata : Lantas, aku menanyainya tentang hadits
tersebut.”
Ibnu Abbas berkata, “Hiduplah lelaki Anshar itu, hingga
dia melihatku sementara manusia berkumpul; di sekelilingku dan bertanya padaku.
Kemudian lelaki itu berkata :”Pemuda itu lebih pandai daripada aku.”
Aku
berkata: “Pada zaman dahulu dikatakan bahwa
barangsiapa mencari sesuatu, kemudian ia bersungguh-sungguh, maka ia
akan mendapatkan sesuatu yang dia cari. Dan barangsiapa mengetuk pintu,
kemudian dia bersabar menunggu, maka ia akan berhasil memasuki pintu itu.”
Dikatakan
pada Asy-Sya’bi : “Dari mana engkau mendapatkan seluruh ilmu ini?“ Dia menjawab :
“Harus dengan teguh, melakukan perjalanan ke negara-negara, bersabar seperti
sabarnya unta, berusaha sejak usia dini seperti burung elang.”
Abu
Hurairah r.a adalah termasuk sahabat nabi SAW yang terkenal dengan kesabaran
dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu, sampai mendapatkan apa yang diharapkan.
Meskipun dia hanya berkumpul dengan Nabi SAW dalam waktu yang sangat singkat,
tidak lebih tiga tahun tetapi dia mampu menjadi sahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadits.
Abu
Hurairah adalah perawi hadits yang paling banyak hafalan pada zamannya. Imam
As-Suyuthi rahimahumullah berkata : “Sahabat Nabi SAW yang paling banyak
haditsnya adalah Abu Hurairah r.a. dia meriwayatkan 5374 hadits, Imam Bukhari
menyepakati sendiri 93, sementara Imam Muslim 189. lebih dari 800 perawi hadits
meriwayatkan dar Abu Hurairah. Dia adalah sahabat yang paling hafal.”
Kemudian
Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630hadits, Ibnu Abbas 1660 hadits, Jabir bin
abdullah 1540, anas bin Malik 2286 hadits, serta Aisyah ummul mukminin 2210
hadits.
Selain
mereka, tidak ada sahabat yang meriwayatkan lebih dari 1000 hadits kecuali Abu
Sa’id Al Khudhri, Sa’d bin Malik. Dia meriwayatkan 1170 hadits.
Mereka
inilah yang dipuji penyair dalam liriknya :Tujuh sahabat yang telah memindahkan
(meriwayatkan)Hadits dari orang pilihan Abu Hurairah, Sa’d, Jabir, Anas Shiddiqah
(Aisyah), Ibnu abbas, demikian pula Ibnu Umar.
Abu Hurairah adalah orang yang sangat memperhatikan ilmu.
Dia senantiasa bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini dijelaskan oleh Al
Bukhari dalam hadits yang dia riwayatkan
: “Dikatakan: “Wahai Rasulullah siapakah yang paling bahagia dengan syafaatmu
di hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku sesungguhnya telah menduga wahai
Abu Hurairah, tidak ada orang yang lebih dahulu menanyakan hal ini selain
engkau, karena aku melihat perhatianmu pada hadits. Orang yang paling
berbahagia mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang berkata :
“Laa ilaaha Illallaah (tiada Tuhan selain Allah) secara murni di dalam hati
atau jiwanya.”
Abu Hurairah berbicara sembari melukiskan kesabaran dan
kesungguhannya : “Suatu waktu aku menemani Nabi SAW untuk mengenyangkan
perutku. Tatkala aku tidak memakan roti, tidak memakai pakaian halus, dan tidak
ada pembantu laki-laki maupun perempuan yang membantuku. Aku lengketkan perutku
dengan kerikil dan aku membacakan buat seorang lelaki ayat Al Qur’an, agar ia
menoleh padaku dan memberiku makan”.
Abu Hurairah RA berkata : “Sesungguhnya kalian berkata :
“Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW”. Dan
kalian berkata, “Mengapa kaum Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits
Rasulullah SAW seperti Abu Hurairah ?”Sesungguhnya saudaraku dari kaum
Muhajirin sibuk bertransaksi di pasar, sementara aku menemani Rasulullah SAW
untuk memenuhi perutku. Karena itu aku selalu menyaksikan Rasulullah SAW jika
mereka tidak ada, dan aku menghafal hadits ketika mereka melupakannya.
Saudaraku dari kaum Anshar disibukkan oleh pekerjaan hartanya. Aku adalah
seorang lelaki miskin di antara orang-orang miskin Shuffah. Aku mengingat hadits
ketika mereka lupa”. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya : “Sesungguhnya
seseorang tidak merentangkan pakaiannya sampai aku menyelesaikan perkataanku
ini. Kemudian dia mengumpulkan pakaiannya sampai menghafal apa yang aku
katakan”. Maka aku kenakan pakaianku. Hingga tatkala Rasulullah SAW telah
menyelesaikan perkataan beliau, aku mengumpulkan perkataan itu di dalam dadaku.
Maka aku tidak melupakan satupun dari perkataan Rasulullah SAW”.
Al Hafidz berkata : Kata “Al Shafq” berarti memukul tangan
dengan tangan. Hali ini dilakukan ketika menyepakati akan jual-beli.
Kalimat
“Fi amwaalihim” berararti berbuat demi kemashlahatan tanaman mereka. Riwayat
Imam Muslim menyebutkan, “Mereka disibukkan oleh pekerjaan ladang mereka”.
Dalam
riwayat Syu’bah disebutkan : “Maka aku tidak melupakan satupun dari perkataan
Rasulullah SAW”. Ini mengandung arti “tidak melupakan” perkataan itu saja
(bukan yang lain).
Dalam
riwayat Yunus, menurut Imam Muslim : “Maka setelah hari itu, aku tidak
melupakan sesuatu yang disabdakan Rasulullah SAW padaku”.
Dalam
riwayat Malik, menurut Imam Bukhari : “Maka aku tidak melupakan sesuatu dari
beliau”. Setelah lafadz nafyi “maa”, kata “syai’an” ditulis nakirah. Secara
dzahir, kalimat ini berarti “tidak melupakan setiap hadist yang disabdakan
Rasulullah”.
Konteks hadits diatas menguatkan riwayat Yunus dan
orang-orang yang menyetujuinya, karena dengan hadits tersebut, Abu Hurairah
menunjukkan banyaknya hadits yang dia hafal. Maka, tidak benar menerapkan makna
ucapan Abu Hurairah hanya pada satu hadits di atas.
“As-Shafaq”
(huruf faa’ dibaca fathah) mengandung arti “transaksi jual beli” Jual beli
dinamakan “Shafq” karena bangsa Arab
selalu memukul telapak tangan mereka (partner) jual belinya ketika telah
terjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. “Shafq” mengisyaratkan bahwa
kepemilikan telah dipindahtangankan. Sepertinya, tangan masing-masing pihak
telah puas dengan apa yang ada digenggamannya.
Dalam
riwayat Muslim, dari Abu Hurairah RA berkata : “Aku adalah lelaki miskin yang
membantu Rasulullah SAW untuk memenuhi perutku. Orang Muhajirin disibukkan oleh
kegiatan jual beli di pasar. Sedangkan orang Anshar sibuk mengurusi harta
mereka”.
Imam
Nawawi r.a berkata : Kalimat “Aku membantu Rasulullah untuk memenuhi perutku”
berarti “Menemaninya dan aku menerima apa adanya makanan yang aku makan. Aku
tidak mengumpulkan harta untuk disimpan atau lainnya. Aku tidak berlebihan
dalam makanan. “Membantu” di sini tidak bertujuan untuk meminta upah.
Bersabar dalam menghadapi rintangan dalam mencari ilmu
wajib hukumnya bagi pencari ilmu. Dalam waktu singkat, Abu Hurairah RA telah
mampu meriwayatkan banyak hadits. Tetapi, untuk merealisasikan semuai itu, Abu
Hurairah telah mengobarkan kesenangan badan dan nikmatnya makanan. Dia menahan
lapar dan badan yang kurus. Dia meluangkan segenap waktunya untuk menemani
Rasulullah SAW, agar dia bisa mendengar dan menghafal sabda beliau. Dia
menghafal hadits karena dia tidak disibukkan oleh urusan duniawi, sampai dia
menjadi pakar dalam periwayatan, sebagaimana yang kamu lihat.
__________
Artikel :Mulia Dengan Ilmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar