AHLAN WA SAHLAN DI WEB MUJAHID

Selasa, 05 Februari 2013

Sabar


Tidak ada sesuatu yang berubah, yang lebih baik dari pada perubahan dari sifat sabar menjadi ilmu.
Ibrahim Bin Adham berkata : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan syaitan dari pada orang alim yang sabar. Jika dia berkata, dia berkata dengan ilmu. Jika dia diam, dia diam dengan rasa sabar. Syaitan berkata : “Lihatlah padanya. Ucapannya lebih memberatkan aku dari pada diamnya”.

Abu Umar Bin Abdil Barr meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas RA berkata : “Aku menetap selama satu tahun, sementara aku bimbang selama dua tahun. Aku ingin bertanya kepada Umar Bin Khattab tentang dua wanita yang memprotes Rasulullah SAW. Aku tidak mendapati tempat untuk bertanya tentang hal ini, hingga dia keluar menunaikan ibadah haji dan aku menemaninya, sampai kami berada di lembah Dahran sembari dia pergi untuk buang hajat. Dia berkata : “Ambilkan untukku satu wadah air”. Tatkala dia telah menyelesaikan hajatnya dan kembali, aku datang membawa satu wadah air dan aku tuangkan untuknya. Lantas aku melihat satu tempat untuk bertanya. Aku berkata : “Wahai amirul mukminin, siapakah dua orang perempuan yang memprotes Rasulullah SAW ? Aku tidak menghentikan ucapanku sampai dia berkata : “Asiyah dan Hafshah”.

Abu Umar berkata :”Tidak mencegah Ibnu Abbas r.a untuk bertanya kepada Umar tentang hal itu kecuali kebesaran Umar. Keterangan ini disebutkan di dalam hadits Ibnu Syihab, yaitu :
Dari Ibnu Abbas r.a berkata :” Aku berdiam selama dua tahun di mana aku ingin bertanya kepada Umar bin Khattab tentang suatu hadits, yang mana tidak ada yang mencegahku untuk bertanya kecuali kebesaran Umar. Hingga dalam suatu perjalanan haji atau umrah, dia tertinggal di belakang, pada pohon Arok yang berada di lembah Dahran untuk buang hajat. Tatkala dia datang, aku bicara berdua dengannya.” Aku berkata :”Wahai Amirul Mukminin, Aku ingin bertanya tentang suatu hadits kepadamu, di mana tidak ada yang mencegahku untuk bertanya kecuali kebesaranmu.” Dia berkata :”Jangan enggan bertanya. Jika kamu ingin bertanya, bertanyalah. Maka sesungguhnya jika aku mempunyai ilmu, maka aku akan memberi tahu kamu. Jika tidak, aku akan berkata:”Aku tidak tahu. Maka bertanyalah kepada orang yang mengerti.”

Aku berkata :”Siapakah dua perempuan yang disebutkan bahwa mereka berdua memprotes Rasulullah SAW?”
Umar bin Khattab r.a menjawab: “Aisyah dan Hafshah.” Kemudian dia berkata : ”Aku mempunyai saudara dari golongan Anshar. Kami secara bergantian menemui Rasulullah SAW. Aku menemui beliau sehari, dan dia sehari berikutnya. Setiap hadits atau khabar yang dia terima selalu disampaikannyapadaku. Demikian pula halnya denganku. Pada suatu hari dia menemui Rasulullah SAW, sedangkan aku tidak. Lantas dia datang kepadaku, dan menyebutkan hadist tentang keseluruhan isinya.”

Abu Umar berkata :”Yang mempersaudarakan Rasulullah SAW dari golongan Anshar ialah ‘Itban bin Malik.”

 Maka lihatlah Ibnu Abbas ra. Alangkah sabarnya dia. Alangkah beradabnya dia. Alangkah pandainya dia memanfaatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang suatu masalah.
Suatu masalah menggelitik jiwanya. Dia tidak ingin bertanya selain kepada Umar, tetapi kebesaran Umar menghalanginya untuk bertanya. Lantas dia bersabar untuk menunggu datangnya kesempatan. Dan tatkala kesempatan itu datang, ia bertanya dan terjawab sudah masalah yang menggelitiknya.
Barangsiapa bersabar dalam menuntut ilmu, maka benderanya berkibar tinggi. Imam Nawawi Rahimahumullah berkata : Barangsiapa tidak bersabar dalam mencari ilmu, maka umurnya akan dihabiskan dalam kebodohan yang buta. Barangsiapa bersabar, maka urusannya akan menuju keagungan akhirat dan dunia. Ibnu Abbas r.a berkata : “Aku menjadi hina dalam mencari ilmu, maka aku menjadi mulia tatkala dicari (orang mencari ilmu dariku).”

Betapa besar kesabaran yang dimiliki Ibnu Abbas r.a tatkala dia menghadapi para sahabat Nabi SAW, bertanya, dan belajar ilmu dari mereka. Maka tatkala sebagian besar dari sahabat tersebut pergi menemui Rabb mereka, masyarakat membutuhkannya. Banyak pencari ilmu yang menghadap padanya. Semoga Allah meridhoi Ibnu Abbas.

Tinta umat, pemandu Al Qur’an Ibnu Abbas menceritakan bagaimana dia bisa menggapai ilmu yang tinggi setelah mendapat pertolongan dari Allah dan barokah  doa Rasulullah SAW, ketika beliau mendoakannya supaya Allah mengajarinya Al Kitab, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan :”Rasulullah SAW memelukku dan berkata :”Ya Allah, ajarkanlah dia Al Kitab.”

Al Hafidz berkata : Sabda Rasulullah “Ajarkan dia Al Kitab.” Pengarang menjelaskan sebab turunnya doa Rasulullah SAW dalam pembahasan  “thaharah” . dari Ubaidillah bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas berkata : ”Nabi SAW masuk kedalam kamar mandi, kemudian aku menyiapkan air wudhu buat beliau.” Muslim menambahkan : “Tatkala Rasulullah SAW keluar, beliau bertanya, “Siapa yang menyiapkan ini ? ” Kemudian aku memberi tahu beliau.”

Yang dimaksud dengan “AL Kitab” pada hadits diatas adalah al Qur’an karena kebiasaan syara, menunjukkan arti tersebut. Yang dimaksud dengan “ta’lim” (pengajian) di sini lebih umum sifatnya dari pada “memahami” atau “menghafal” Al Qur’an.

Dalam riwayat Imam Bukhari Rahimahumullah disebutkan : Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a dalam dada beliau, lalu berkata : “Ya Allah, ajarkanlah padanya hikmah.” Al Bukhari berkata :”Hikmah adalah kebenaran, selain kenabian.”

Al Hafidz rahimahullah berkata : Terdapat perbedaan berkenaan dengan arti hikmah di sini. Dikatakan bahwa hikmah adalah kebenaran dalam perkataan. Dikatakan pula sebagai pemahaman yang diberikan Allah. Dikatakan pula sebagai kebenaran yang biasa diterima oleh akal. Dikatakan pula sebagai cahaya petunjuk yang dapat membedakan antara ilham dan was-was. Dikatakan sebagai kemampuan untuk menjawab dengan cepat dan benar, dan lain sebagainya.

Ibnu Abbas r.a adalah sahabat yang paling pandai dalam menafsirkan al Qur’an. Ibnu Abbas berkata : Tatkala  Rasulullah SAW wafat, aku berkata pada salah seorang lelaki Anshar: “Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah SAW. Maka sesungguhnya jumlah mereka banyak sekarang ini. “Lelaki itu berkata : “Aneh sekali engkau ini, wahai Ibnu abbas. Tidaklah engkau melihat masyarakat membutuhkanmu. Diantara sahabat Rasulullah SAW , siapakah mereka yang bisa ditanya?”

Ibnu Abbas r.a berkata : “Aku tinggalkan peristiwa itu seraya menghadap pada para sahabat Rasulullah SAW, karena sesungguhnya akan sampai padaku sebuah hadits dari lelaki itu. Aku mendatangi pintunya sementara dia sedang berkata. Kemudian aku tempelkan selendangku pada pintunya. Angin berdebu menimpaku. Kemudian dia keluar dan melihat padaku. Lantas dia berkata : “Wahai putra paman Rasulullah SAW, apa yang terjadi padamu? Tidakkah engkau mengirim pesan agar aku menemuimu?”

Maka aku berkata : “Tidak aku lebih berhak untuk menemuimu. “Ibnu Abbas berkata : Lantas, aku menanyainya tentang hadits tersebut.”

Ibnu Abbas berkata, “Hiduplah lelaki Anshar itu, hingga dia melihatku sementara manusia berkumpul; di sekelilingku dan bertanya padaku. Kemudian lelaki itu berkata :”Pemuda itu lebih pandai daripada aku.”
Aku berkata: “Pada zaman dahulu dikatakan bahwa  barangsiapa mencari sesuatu, kemudian ia bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang dia cari. Dan barangsiapa mengetuk pintu, kemudian dia bersabar menunggu, maka ia akan berhasil memasuki pintu itu.”

Dikatakan pada  Asy-Sya’bi : “Dari mana engkau  mendapatkan seluruh ilmu ini?“ Dia menjawab : “Harus dengan teguh, melakukan perjalanan ke negara-negara, bersabar seperti sabarnya unta, berusaha sejak usia dini seperti burung elang.”

Abu Hurairah r.a adalah termasuk sahabat nabi SAW yang terkenal dengan kesabaran dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu, sampai mendapatkan apa yang diharapkan. Meskipun dia hanya berkumpul dengan Nabi SAW dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih tiga tahun tetapi dia mampu menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Abu Hurairah adalah perawi hadits yang paling banyak hafalan pada zamannya. Imam As-Suyuthi rahimahumullah berkata : “Sahabat Nabi SAW yang paling banyak haditsnya adalah Abu Hurairah r.a. dia meriwayatkan 5374 hadits, Imam Bukhari menyepakati sendiri 93, sementara Imam Muslim 189. lebih dari 800 perawi hadits meriwayatkan dar Abu Hurairah. Dia adalah sahabat yang paling hafal.”
Kemudian Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630hadits, Ibnu Abbas 1660 hadits, Jabir bin abdullah 1540, anas bin Malik 2286 hadits, serta Aisyah ummul mukminin 2210 hadits.

Selain mereka, tidak ada sahabat yang meriwayatkan lebih dari 1000 hadits kecuali Abu Sa’id Al Khudhri, Sa’d bin Malik. Dia meriwayatkan 1170 hadits.

Mereka inilah yang dipuji penyair dalam liriknya :Tujuh sahabat yang telah memindahkan (meriwayatkan)Hadits dari orang pilihan Abu Hurairah, Sa’d, Jabir, Anas Shiddiqah (Aisyah), Ibnu abbas, demikian pula Ibnu Umar.

Abu Hurairah adalah orang yang sangat memperhatikan ilmu. Dia senantiasa bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini dijelaskan oleh Al Bukhari dalam hadits  yang dia riwayatkan : “Dikatakan: “Wahai Rasulullah siapakah yang paling bahagia dengan syafaatmu di hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku sesungguhnya telah menduga wahai Abu Hurairah, tidak ada orang yang lebih dahulu menanyakan hal ini selain engkau, karena aku melihat perhatianmu pada hadits. Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang berkata : “Laa ilaaha Illallaah (tiada Tuhan selain Allah) secara murni di dalam hati atau jiwanya.”

Abu Hurairah berbicara sembari melukiskan kesabaran dan kesungguhannya : “Suatu waktu aku menemani Nabi SAW untuk mengenyangkan perutku. Tatkala aku tidak memakan roti, tidak memakai pakaian halus, dan tidak ada pembantu laki-laki maupun perempuan yang membantuku. Aku lengketkan perutku dengan kerikil dan aku membacakan buat seorang lelaki ayat Al Qur’an, agar ia menoleh padaku dan memberiku makan”.

Abu Hurairah RA berkata : “Sesungguhnya kalian berkata : “Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW”. Dan kalian berkata, “Mengapa kaum Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW seperti Abu Hurairah ?”Sesungguhnya saudaraku dari kaum Muhajirin sibuk bertransaksi di pasar, sementara aku menemani Rasulullah SAW untuk memenuhi perutku. Karena itu aku selalu menyaksikan Rasulullah SAW jika mereka tidak ada, dan aku menghafal hadits ketika mereka melupakannya. Saudaraku dari kaum Anshar disibukkan oleh pekerjaan hartanya. Aku adalah seorang lelaki miskin di antara orang-orang miskin Shuffah. Aku mengingat hadits ketika mereka lupa”. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya : “Sesungguhnya seseorang tidak merentangkan pakaiannya sampai aku menyelesaikan perkataanku ini. Kemudian dia mengumpulkan pakaiannya sampai menghafal apa yang aku katakan”. Maka aku kenakan pakaianku. Hingga tatkala Rasulullah SAW telah menyelesaikan perkataan beliau, aku mengumpulkan perkataan itu di dalam dadaku. Maka aku tidak melupakan satupun dari perkataan Rasulullah SAW”.

Al Hafidz berkata : Kata “Al Shafq” berarti memukul tangan dengan tangan. Hali ini dilakukan ketika menyepakati akan jual-beli.

Kalimat “Fi amwaalihim” berararti berbuat demi kemashlahatan tanaman mereka. Riwayat Imam Muslim menyebutkan, “Mereka disibukkan oleh pekerjaan ladang mereka”.

Dalam riwayat Syu’bah disebutkan : “Maka aku tidak melupakan satupun dari perkataan Rasulullah SAW”. Ini mengandung arti “tidak melupakan” perkataan itu saja (bukan yang lain).

Dalam riwayat Yunus, menurut Imam Muslim : “Maka setelah hari itu, aku tidak melupakan sesuatu yang disabdakan Rasulullah SAW padaku”.

Dalam riwayat Malik, menurut Imam Bukhari : “Maka aku tidak melupakan sesuatu dari beliau”. Setelah lafadz nafyi “maa”, kata “syai’an” ditulis nakirah. Secara dzahir, kalimat ini berarti “tidak melupakan setiap hadist yang disabdakan Rasulullah”.

Konteks hadits diatas menguatkan riwayat Yunus dan orang-orang yang menyetujuinya, karena dengan hadits tersebut, Abu Hurairah menunjukkan banyaknya hadits yang dia hafal. Maka, tidak benar menerapkan makna ucapan Abu Hurairah hanya pada satu hadits di atas.
“As-Shafaq” (huruf faa’ dibaca fathah) mengandung arti “transaksi jual beli” Jual beli dinamakan “Shafq”  karena bangsa Arab selalu memukul telapak tangan mereka (partner) jual belinya ketika telah terjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak. “Shafq” mengisyaratkan bahwa kepemilikan telah dipindahtangankan. Sepertinya, tangan masing-masing pihak telah puas dengan apa yang ada digenggamannya.

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah RA berkata : “Aku adalah lelaki miskin yang membantu Rasulullah SAW untuk memenuhi perutku. Orang Muhajirin disibukkan oleh kegiatan jual beli di pasar. Sedangkan orang Anshar sibuk mengurusi harta mereka”.

Imam Nawawi r.a berkata : Kalimat “Aku membantu Rasulullah untuk memenuhi perutku” berarti “Menemaninya dan aku menerima apa adanya makanan yang aku makan. Aku tidak mengumpulkan harta untuk disimpan atau lainnya. Aku tidak berlebihan dalam makanan. “Membantu” di sini tidak bertujuan untuk meminta upah.

Bersabar dalam menghadapi rintangan dalam mencari ilmu wajib hukumnya bagi pencari ilmu. Dalam waktu singkat, Abu Hurairah RA telah mampu meriwayatkan banyak hadits. Tetapi, untuk merealisasikan semuai itu, Abu Hurairah telah mengobarkan kesenangan badan dan nikmatnya makanan. Dia menahan lapar dan badan yang kurus. Dia meluangkan segenap waktunya untuk menemani Rasulullah SAW, agar dia bisa mendengar dan menghafal sabda beliau. Dia menghafal hadits karena dia tidak disibukkan oleh urusan duniawi, sampai dia menjadi pakar dalam periwayatan, sebagaimana yang kamu lihat.
__________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar